Warga Asing Tanam Cabai Berbakteri Berbahaya Merupakan Bentuk Perang Biologi

0
2341

Jakarta, (10/12) – Diketemukannya cabai yang telah ditanam di Indonesia oleh warga China sudah merupakan pukulan berat bagi negara ini karena ini bisa berujung pada perang ekonomi untuk menjajah Indonesia. Namun kenyataan bahwa cabai tersebut mengandung bakteri berbahaya yang mengancam kelangsungan tanaman pangan lokal sebagai pemenuhan kebutuhan dalam negeri sudah merupakan bentuk perang biologis yang dilancarkan negara asing kepada Indonesia. Hal ini dikatakan anggota komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin.

“Undang-undang karantina yang saat ini dibahas DPR dengan pemerintah harus memuat pasal-pasal pertahanan negara yang sangat kuat. Sebab bila pertahanan karantina ini lemah, sama saja membuka peluang negara ini dihancurkan dengan mudah oleh negara lain dengan cara perang biologis yang dampak kerusakan terhadap negara sangat mengerikan”, ucap legislator PKS dapis Sulawesi II ini.

Politisi Fraksi PKS di DPR ini menyebut, bahwa aksi warga asing yang menanam cabai dengan melibatkan bakteri Erwinia Chrysanthemi merupakan bentuk tindakan “bioterorism”. Sebab menurut dia, jenis bakteri ini belum ada di Indonesia. Jika ini menyebar ke seluruh negeri, akan membawa bencana fatal dikarenakan negara kita belum mampu mengendalikan kecuali pemusnahan.

Akmal yang juga anggota Badan Anggaran DPR ini menjelaskan, perang ekonomi melalui perang biologis tanaman pangan saat ini meskipun samar, namun sudah mulai terlihat antara Amerika dan Eropa. Isyu transgenik sangat gamblang dilancarkan negara-negara maju dunia yang berawal pada isyu kesehatan yang kemudian berdampak pada perang ekonomi. Indonesia sebagai produsen pangan yang sekaligus konsumen bibit merupakan negara yang secara langsung terdampak.

Namun, lanjut akmal, dengan adanya cabai yang ditanam langsung di Indonesia oleh warga asing ini sudah merupakan kegiatan secara terbuka hendak menghancurkan tatanan masyarakat Indonesia melalui perang biolagis. Akmal menjelaskan kronolgis kerusakan yang akan ditimbulkan adalah, berawal dari musnahnya tanaman pangan lokal tanpa mengetahui bagaimana cara mengatasi. Kelanjutannya Indonesia akan tergantung negara luar pada produk-produk pangan yang tadinya mampu dipenuhi dari dalam negeri. Kemiskinan akan meningkat karena petani akan semakin terpuruk akibat sulit berproduksi. Ekonomi Indonesia semakin tergerus dan ketika krisis ekonomi berlangsung hanya satu tahun saja, sejarah Indonesia sudah menunjukkan bahwa huru-hara dan pertikaian antar masyarakat terjadi yang menimbulkan kerusuhan dimana-mana.

“Sudah saatnya negara ini memperkuat komisi pengawas keanekaragaman hayati dan serius membentuk Badan Karantina Nasional yang mampu mengakses bea cukai. Segala pengamanan berlapis harus sudah mulai diterapkan. Ini merupakan peringatan keras bagi negara ini. Karantina, imigrasi dan pengawas transgenik saling sinergis berlapis mengamankan serangan biologis yang sudah mulai dilancarkan negara luar kepada Indonesia”, tutup Andi Akmal Pasluddin.

Facebook Comments

NO COMMENTS

Leave a Reply