Kartini Hari Ini adalah Inspirator dan Pelopor dalam Kebaikan

0
510

Kiprah perempuan di era modern saat ini sudah sangat meluas di segenap aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya pada tataran pekerja, namun juga pada level pengambil kebijakan. Bukan sesuatu yang aneh lagi jika para perempuan menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan, lembaga perwakilan rakyat, sektor industri, dan sebagainya. Kebijakan, program, maupun kegiatan yang ada tidak bisa terlepas lagi dari campur tangan perempuan.

Namun, ada sebuah keprihatinan yang kadang mendera hati penulis yang juga seorang perempuan bila melihat perilaku generasi harapan bangsa hari ini. Perilaku hedonis, konsumerisme, kekerasan remaja, seks menyimpang, dan pergaulan bebas telah menghiasi wajah Indonesia. Korupsi menjadi budaya, suap menyuap menjadi sesuatu yang biasa, saling cekal dan intrik menghiasi ranah kehidupan masyarakat. Permasalahan keluarga, tingkat perceraian yang tinggi, selingkuh, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan pada anak menghiasi berita kita sehari-hari.

Di mana engkau wahai perempuan di tengah kemerosotan nilai agama dan moral bangsa? Apakah untuk ini engkau keluar sejak pagi hingga petang, bahkan malam hari meninggalkan rumah, anak-anak, dan suami yang masih menuntut perhatian dan kasih sayangmu? Apakah untuk ini engkau berjuang menuntut kesetaraan, persamaan hak, dan posisi yang sama dengan kaum lelaki? Apakah untuk ini engkau berjuang agar keterwakilanmu menjadi maksimal dan suaramu layak didengar?

Jika kita melihat kiprah pejuang perempuan dahulu, tidak salah kalau kita mengangkat jempol, karena semangat perjuangan Cut Nyak Dien dan Cut Mutia melawan penjajah sehingga kemerdekaan Indonesia dapat tercipta. Karena semangat dan perjuangan Kartini dan Rasuna Said, perempuan Indonesia bisa bersekolah setinggi-tingginya. Bagaimana kesetiaan dan pelayanan Ibu Fatmawati dan Ibu Mutia mendampingi bapak-bapak bangsa, Soekarno-Hatta? Di belakang laki-laki yang hebat ada perempuan yang hebat. Untuk mereka tepat ungkapan itu kita maknai.

Apakah kita punya pejuang-pejuang hebat seperti itu hari ini? Tentu saja ada, namun realitas kemerosotan nilai yang ada di sekitar kita menuntut agar kembali mereorientasi arah perjuangan, mengintrokspeksi jejak-jejak kiprah, dan memperbaiki apa yang masih salah dalam niat dan gerak juang kita.

Bukankah perempuan itu adalah pendidik yang pertama dan utama dalam keluarganya? Bukankah di samping laki-laki yang hebat ada seorang perempuan yang setia dan selalu mendukung? Bukankah masyarakat yang kuat dapat tercipta dengan andil dan kontribusi para perempuan? Ini adalah renungan bagi diri penulis dan perempuan-perempuan Indonesia.

Salah satu pejuang perempuan yang setiap tahun kita peringati hari perjuangannya adalah R.A. Kartini. Beliau dengan kecerdasan intelektual dan juga fitrah kemanusiaannya telah menunjukkan kepada kita bahwa perempuan juga peduli kepada masyarakat, peduli pada kondisi lingkungan sekitarnya. Perpaduan antara kepedulian dan kecerdasan yang lahir dari kepekaan rasa memberikan inspirasi kepada para perempuan untuk terus berkarya.

Momentum Hari Kartini ini mengingatkan kepada kita untuk kembali berbenah diri, untuk bisa menyeimbangkan pemenuhan tugas kita baik di dalam keluarga dan juga di masyarakat. Prinsip perjuangan seorang muslimah merujuk kepada sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” Dan saya yakin itupun menjadi keyakinan semua agama.

Bangsa ini memerlukan pejuang-pejuang perempuan yang mampu melahirkan generasi-generasi yang sholeh, cerdas, dan kuat. Bangsa ini juga membutuhkan perempuan-perempuan yang menjadi pendukung para suami untuk berkiprah di luar rumah, dan juga perempuan-perempuan yang peduli serta mau berkontribusi bagi bangsanya, peduli pada permasalahan masyarakat sekitarnya.

Kiprah perempuan harus terasa manfaatnya baik itu di rumah dan masyarakat. Kartini hari ini harus menjadi Inspirator dan pelopor dalam kebaikan bagi lingkungannya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk perbaikan perjuangan perempuan hari ini dan di masa depan. Wallahu’alam.

 

)|(
Susy Smita Pattisahusiwa
Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga PKS Sulsel

Facebook Comments

NO COMMENTS

Leave a Reply