Makassar – Komisi A mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Seko Power Prima dan masyarakat adat seko di Gedung DPRD Provinsi Sulsel, Senin (10/04). Seko adalah salah satu kecamatan di Luwu Utara yang berada pada ketinggian 1200 – 1800 Mdpl.

RDP terkait protes masyarakat adat Seko terhadap pembangunan PLTA di wilayahnya yang dianggap melanggar.

Perwakilan dari masyarakat adat Seko mengatakan bahwa rencana pembangunan PLTA tidak disetujui oleh sebagian besar masyarakat di Seko dengan beberapa alasan, “Ini masuk dalam wilayah tanah adat, ada situs yang perlu dijaga dan dipertahankan, juga terjadinya penyerobotan tanah adat tanpa seizin dari pemangku adat setempat,” kata Asri Yunus, salah seorang masyarakat adat Seko. Masalah lain adalah tidak adanya sosialisasi secara terbuka kepada masyarakat dan dampak terhadap lingkungan.

Namun perwakilan dari PT Seko Power Prima, Ginanjar mengatakan bahwa selain telah mengantongi surat izin dari pemerintah daerah, pihaknya juga mengantongi surat izin dari beberapa tokoh adat di Seko. “Kami dapat izin dari bupati pada Maret 2012 untuk survei, kami juga dapat surat izin dari pemangku adat,” kata Direktur Operasional Seko Power Prima, Ginanjar. Dia juga menjelaskan bahwa pihaknya tidak akan memusnahkan situs.

Sedang Ketua DPRD Luwu Utara, Mahfud Yunus mengatakan pihaknya sudah mempertemukan tokoh adat dan PT Seko Power Prima, “Kita sudah bicarakan baik-baik masalah ini, dan tidak ada masalah, makanya saya kaget dan malu karena persoalan ini dibawah sampai ke Provinsi, harusnya diselesaikan di Kabupaten saja,” kata Mahfud. Lebih lanjut Mahfud berharap legislator dari dapil Luwu bisa turun langsung ke lapangan memantau kasus tersebut.

Legislator PKS, Jafar Sodding sebagai pimpinan sidang merekomendasikan agar pihak DPRD Luwu Utara kembali melakukan mediasi dengan mempertemukan semua pihak untuk membicarakan masalah ini. “Jadi kita rekomendasikan agar kembali melakukan mediasi sebelum melanjutkan pembangunan PLTA,” pungkas Jafar.

Facebook Comments

NO COMMENTS

Leave a Reply